Konsep Pengembangan Model Kurikulum PAUD

Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using and managing appropriate technological processes and resources”.[1]  Definisi Teknologi Pendidikan diatas merupakan definisi terbaru yang dikeluarkan oleh AECT, tahun 2004. Didalam definisi tersebut terdapat elemen fasilitasi pembelajaran yang menjadi pusat kajian teknologi pendidikan itu sendiri.  Fasilitasi pembelajaran merupakan jantung dari seluruh proses pembelajaran dimana proses-proses pembelajaran dibantu dengan desain pembelajaran, metode pembelajaran yang sesuai dan strategi pembelajaran yang akan membantu efektifitas an efisiensi proses pembelajaran itu. Pada definisi awal teknologi pendidikan di sebutkan bahwa :

 “ The first formal AECT definition (Ely, 1963) referred to “design and use of messages which control the learning process”. Later definitions were less explicit but continued to imply a relatively direct connection between well-designed, well-delivered instruction and effective learning”.[2]  

 

Kegiatan-kegiatan yang terlibat di dalam fasilitasi pembelajaran merupakan intervensi langsung terhadap proses-proses instruksional. Salah satu kegiatan dalam proses memfasilitasi pembelajaran adalah pengembangan kurikulum yang tercermin di dalam pengembangan model pembelajaran.  Tujuannya adalah untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien serta dapat meraih hasil pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pengembangan model pembelajaran menjadi sebuah framework atau cetak biru sebuah program pembelajaran.  Cetak biru desain pembelajaran dibangun dengan menggunakan  model desain instruksional.  Instructional Design (ID) Models are the systematic guidelines instructional designers follow in order to create a workshop, a course, a curriculum, an instructional program, or a training session.[3]

Berbagai ahli di bawah ini mengemukakan berbagai definisi pengembangan instruksional. Clarence Schauer (1971) menyebutnya sebagai  perencanaan secara akal sehat untuk mengidentifikasi masalah belajar dan mengusahakan pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan suatu rencana terhadap pelaksanaan, evaluasi, uji coba, umpan balik, dan hasilnya. Hamreus (1971) menyebutnya secara singkat sebagai proses yang sistematis untuk meningkatkan kualitas kegiatan instruksional. Buhl (1975) menyebutnya sebagai suatu set kegiatan yang bertujuan meningkatkan kondisi belajar bagi mahasiswa.  Kecuali Schauer, tidak seorang pun ahli di atas yang menunjukkan secara jelas bagaimana proses pengembangan instruksional itu berlangsung. Mereka lebih menitiberatkan pengertian pengembangan instruksional pada tujuan atau maksudnya, yaitu memecahkan masalah belajar, meningkatkan kualitas kegiatan instruksional atau meningkatkan kondisi-kondisi belajar.[4]

Atwi Suparman mendefinisikan pengembangan instruksional sebagai suatu proses yang sistematis dalam mengidentifikasi masalah, mengembangkan bahan dan strategi instruksional, serta mengevaluasi efektivitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan instruksional. Dalam susunan bahasa lain, pengembangan instruksional adalah proses yang sistematis dalam mencapai tujuan instruksional secara efektif dan efisien melalui pengidentifikasian masalah, pengembangan strategi dan bahan instruksional, serta pengevaluasian terhadap strategi dan bahan instruksional tersebut untuk menentukan apakah ada yang harus direvisi.[5]

Gambar 2:  Siklus Lengkap Kegiatan Instruksional

 

 siklus keginstr

Definisi-definisi pengembangan instruksional diatas secara gamblang menjelaskan bahwa di dalam tahapan-tahapan pengembangan instruksional melibatkan proses perencanaan, identifikasi masalah belajar, pemecahan masalah belajar, proses sistematis untuk meningkatkan kualitas kegiatan instruksional termasuk strategi-strategi yang digunakan, serta evaluasi efektivitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan instruksional. Model desain instruksional menjadi petunjuk untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran di dalam sebuah kurikulum sehingga metodologi yang digunakan didalam desain instruksional mutlak harus dipergunakan.

Berbagai model desain instruksional telah banyak dikembangkan di seluruh dunia, diantaranya generic ADDIE model,[6] e5 Instructional Model,[7] Dick and Carey Instructional System Design,[8] dan masih banyak lagi model desain instruksional yang telah dikembangkan namun tidak disebutkan dalam penelitian ini.

Penelitian ini memilih untuk menggunakan model pengembangan instruksional dari Dick and Carey dengan beberapa alasan. Dick and Carey Instructional System Design memiliki kelebihan-kelebihan dimana prosedur instruksionalnya cukup lengkap dengan langkah-langkah yang sistematis. Yang pertama adalah, model ini berfokus pada kompetensi yang dapat dicapai oleh siswa setelah melewati proses pembelajaran. The first is the focus, at the outset, on what learners are to know or be able to do when the instruction is concluded.[9]

Kedua, setiap komponennya langkah demi langkah saling terkait, berhubungan erat dan berorientasi pada hasil pembelajaran atau kompetensi yang hendak dicapai. A second reason for the success of the system approach is the careful linkage between each component, especially the relationship between the instructional strategy and the desired learning outcomes.[10]  Pembelajaran ditargetkan untuk membentuk keterampilan dan pengetahuan baru dengan menghadirkan situasi kondisi yang sesuai kepada siswa. Instruction is specifically targeted on the skills and knowledge to be taught and supplies the appropriate conditions for the learning of these outcomes.[11] Kondisi ini diperlukan untuk membentuk keterampilan dan mentransfer pengetahuan baru pada anak-anak usia dini karena gaya belajar mereka dipengaruhi oleh situasi yang menyenangkan dengan atmosfer bermain yang lebih kental. Any activity children choose to engage in is play; it is never ending.[12]

The third, [...] is that it is an empirical and replicable process. Instruction is designed not for one delivery, but for use as many occasions as possible with as many learners as possible. because it is reusable, it is worth the time and effort to evaluate and revise it.[13]  Model ini mempunyai siklus revisi sehingga kapanpun diperlukan model ini dapat dievaluasi dan diperbaharui sehingga membuka kesempatan untuk memperbaiki dan menyempurnakan model pembelajaran tanpa harus merombaknya dari awal.

Because of these characteristics, the systems approach is valuable to instructors who are interested in successfully teaching basic and higher level competencies to learner.[14] Karena model ini dapat digunakan untuk mengembangkan model pembelajaran dalam tingkat apapun, maka model ini dimungkinkan untuk digunakan pada level pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, model ini dipilih mengingat konteks penelitian ini adalah taman penitipan anak yang berada di dalam rumpun pendidikan anak usia dini.

Penelitian ini menggunakan siklus R&D versi Borg and Gall. Borg and Gall sendiri mengacu pada model yang dikembangkan oleh Dick and Carey yaitu Instructional System Design. A widely used model of educational research and development is the systems approach model designed by Walter Dick, Lou Carey and James Carey.[15]

Terdapat sepuluh langkah penelitian yaitu langkah 1 melibatkan identifikasi tujuan untuk program instruksional atau produk, yang sering mencakup penilaian kebutuhan. Langkah Langkah 2 dan 3 dapat terjadi baik dalam urutan atau secara bersamaan. Pada langkah 2, analisis instruksional dilakukan untuk mengidentifikasi keterampilan khusus, prosedur dan tugas-tugas belajar yang terlibat dalam mencapai tujuan pengajaran. Langkah 3 dirancang untuk mengidentifikasi entry-level pembelajar dalam keterampilan dan sikap, karakteristik pengaturan instruksional, dan karakteristik dari pengaturan di mana pengetahuan dan keterampilan baru akan digunakan. Langkah 4 melibatkan menerjemahkan kebutuhan dan tujuan dari instruksional ke dalam tujuan kinerja spesifik. Tujuan kinerja menyediakan sarana untuk berkomunikasi tentang tujuan dari program instruksional atau produk pada tingkat yang berbeda dengan berbagai jenis pemangku kepentingan. Mereka juga memberikan dasar bagi perencanaan yang tepat dari instrumen penilaian, strategi pengajaran, dan materi pengajaran. Selama langkah 5, instrumen penilaian yang dikembangkan. Instrumen ini harus langsung berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan kinerja. Pada langkah 6 strategi instruksional khusus dikembangkan untuk membantu peserta didik dengan upaya mereka untuk mencapai setiap tujuan kinerja. Langkah 7 melibatkan pengembangan bahan ajar, yang mungkin termasuk bahan cetak seperti buku teks dan manual pelatihan guru atau media lainnya seperti sistem video interaktif. Evaluasi formatif yaitu langkah 8 dilakukan selama proses perkembangan dan hasil-hasilnya digunakan untuk merevisi (langkah 9) produk R&D atau program selama salah satu dari tujuh tahap pertama-yaitu, untuk merevisi sasaran instruksional, analisis instruksional, analisis peserta didik dan konteks, tujuan kinerja, instrumen penilaian, strategi pembelajaran, dan atau bahan ajar dengan cara yang muncul diinginkan berdasarkan hasil evaluasi formatif.

 

Gambar 2 : Steps Of System Approach Model Of Educational Research And Development

system approach R&D

 

 

Referensi :


[1]  Januszweski,  Alan.  Molenda, Michael  . Educational Technology A Definition With  Commentary (USA : Taylor & Francis Group, 2008),p.1.

[2] Ibid., p.4.

[3] http://www.cs.ucy.ac.cy/~nicolast/courses/cs654/lectures/IDmodels.pdf. Chapter 3 : Instructional Design Models (diakses pada 5 Maret 2013).

[4] Suparman. M.Atwi. Desain Instruksional (Jakarta:Penerbit Universitas Terbuka,2004), p.35.

[5] Ibid.,p.37.

[6] Molenda, Michael . The ADDIE Model. Paper (Indiana University, DRAFT  Submitted for publication in A. Kovalchick & K. Dawson, Ed’s, Educational Technology: An Encyclopedia. Copyright by ABC-Clio, Santa Barbara, CA, 2003.)       .

[7] Using the e5 Instructional model (engage, explore, explain, elaborate, evaluate) in Traffic Safety Education. Paper,  Conrad Remenyi, Senior Project Officer, Department of Education & Early ChildhoodDevelopment, Victoria

[8]   Dick, Walter. Carey, Lou . Carey, James O .  The Systematic Design Of Instruction (5th edition).New York : Allyn & Bacon, Boston MA.

[9] Ibid.,p.11.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12]   Gordon,Ann Miles .  Browne, Kathryn Williams. Beginning Essentials In Early Childhood Education.. Canada : Thomson Delmar Learning, 2007.,p.150.

[13] Ibid.,p.11.

[14] Opcit, Dick et al.,p.11.

[15]  Gall, Meredith D.,e t. al., Educational Research : An Introduction. Eighth Edition (USA : Pearson Education Inc,2007),p.589.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s