Calistung : Membaca (bagian 1)

Kontroversi keterampilan CALISTUNG pada anak semakin hari semakin berkembang. Sebagian kalangan beranggapan bahwa anak belum perlu menguasai kompetensi CALISTUNG sebelum anak masuk SD. Sebagian lagi keukeuh dengan pendapat bahwa CALISTUNG perlu dikuasai sebelum anak masuk SD mengingat waktu dan konten materi SD yang “berat” untuk saat ini.

Untuk membahas tentang seberapa dini seorang anak dapat menguasai keterampilan CALISTUNG, kita harus memisahkan tiga jenis kompetensi ini pertama kemampuan membaca, kedua kemampuan menulis, ketiga kemampuan berhitung. Mari kita bahas mulai dari kemampuan membaca.

tara baca

Secara umum kita bisa melihat bahwa rata-rata anak menguasai keterampilan membaca di usia 6-7 tahun, namun ada kelompok anak-anak yang sudah mampu membaca lancar di usia 4 tahun, bahkan kurang dari usia 4 tahun.  Pertanyaan sederhana, mulai usia berapa anak dapat belajar membaca ? Dan mulai dari mana ? Bagaimana caranya ?

ade baca

Menurut Froebel, yang dikenal sebagai Father of the Kindergarten”,  Play is the highest phase of child development-the representation of the inner necessity and impulse. He thought that both men and woman should teach young children, as friendly facilitators than stern disciplinarians.  Artinya bila kita merujuk pada pemikiran Froebel, bermain adalah sentral kegiatan dan sentral  proses pembelajaran yang dialami dalam usia kanak-kanak. Bentuk pengetahuan atau keterampilan apapun yang ingin diberikan pada anak-anak harus merujuk pada dua hal yaitu tahap perkembangannya dan situasi bermain yang santai. Froebel menegaskan bahwa bentuk-bentuk disiplin yang keras belum waktunya dikondisikan pada anak-anak.  Dengan demikian, pada saat orang tua dan guru sudah melihat kesiapan anak untuk mulai dikenalkan pada huruf, suasana yang diciptakan haruslah suasana bermain, bukan suasana belajar yang formal.

 

Benar adanya bahwa kemampuan membaca dan menulis sangat penting bagi keberhasilan belajar anak di sekolah dan kehidupan selanjutnya.  Learning to read and write is critical to a child’s success in school and later in life. One of the best predictors of whether a child will function competently in school and go on to contribute actively in our increasingly literate society is the level to which the child progresses in reading and writing.   Dan di era sekarang dimana percepatan teknologi begitu pesat, maka anak dituntut untuk sesegera mungkin menguasai berbagai kompetensi sehingga dapat dianggap siap ketika memasuki jenjang sekolah formal.

Pertanyaannya adalah, kapan anak cukup siap untuk mulai belajar membaca ?

narawigar

A child’s ability to read, to learn and write is linked-to age related development (Snow, Burns, and Griffin, 1998) ; and speaking and reading and writing -literacy skills- are linked in terms of learning (Strickland and Morrow, 1989).  Kalau kita cermati ada dua tahapan anak dalam belajar membaca. Pertama, periode mereka belajar membaca (learn to read ). Dan yang kedua adalah periode membaca untuk belajar (read to learn). Kedua proses ini merujuk pada tahap perkembangan anak dan tingkat kematangan yang sudah dicapai oleh anak.

Dalam sebuah Reading Development Timeline, dinyatakan bahwa Children cannot learn to speak without learning to understand. Without learning to speak, children cannot learn the alphabet. Without knowing the letters of the alphabet, children cannot use them to form words, etc. This means that children start their developmental process towards reading from the earliest age. The foundation of their literacy skills starts with their cognitive and speech development. Everything else follows from there.  Pernyataan diatas secara jernih memperlihatkan tahapan-tahapan perkembangan yang harus dilampaui oleh anak sebelum dikenalkan kepada bentuk huruf.

Source : http://mrsmarissas1stgradeclass.weebly.com/learning-letters-lesson-plan.html

Diawali dengan proses dimana anak mampu memahami pesan verbal dan non-verbal jauh sebelum mereka bisa bicara.  Setelah mampu menangkap pesan dan memahami konsep sederhana barulah anak mulai belajar bicara dan menyebutkan konsep secara verbal misalnya “mama” untuk menunjuk ibunya, “mamam” untuk menunjukkan rasa lapar dan keinginan untuk makan, “na,na” dengan gelengan kepala untuk menunjukkan rasa tidak suka, dan sebagainya.  Kelak, jika anak sudah mampu berbicara dengan cukup lancar dan mampu menguasai konsep-konsep sederhana mengenai orang dan benda di sekitarnya maka guru atau orang tua sudah mulai dapat mengenalkan anak pada konsep bentuk, salah satunya adalah bentuk-bentuk alphabet.  Dari penguasaan bentuk alphabet barulah anak belajar untuk merangkai kata-kata sederhana.

Jadi,  langkah awal agar anak   dapat mengenal huruf adalah mengenal bentuk. Dari pengenalan bentuk tadi, anak mulai belajar membedakan bentuk yang satu dengan bentuk yang lain dan mengingatnya dalam bentuk simbol-simbol. Inilah pondasi awal pada tahapan pembelajaran membaca. Memaksa anak untuk “menghafal” alphabet akan sia-sia bila anak tidak dilatih untuk menguasai konsep bentuk huruf. Sekali lagi, proses pengenalan huruf harus dilakukan dalam situasi santai dan penuh dengan permainan.

Segera setelah anak menguasai konsep huruf, maka langkah berikutnya anak akan mulai belajar merangkai huruf menjadi kata. Kemudian kata menjadi kalimat. Bila proses ini dilakukan langkah demi langkah, tidak heran kalau kita bertemu dengan anak-anak yang sudah fasih membaca sebelum berusia 4 tahun.  Karena proses pemahaman konsep sudah dimulai sejak usia satu tahun dan diikuti kemampuan mengenal bentuk di usia 2 tahun.  Inilah sebabnya mengapa anak tidak perlu dipaksa untuk belajar membaca, tetapi perkenalkanlah anak kepada bentuk-bentuk dan simbol-simbol yang mengandung konsep. Kelak di usia 6-7 tahun kemampuan membaca akan  dipergunakan untuk mempelajari sesuatu yang baru melalui teks/tulisan. Pada periode ini kemampuan literasi anak sudah harus mulai dibangun secara maksimal.

Anak dilahirkan dari orang tua berbeda dengan kemampuan yang berbeda pula. Bila dalam proses pembelajaran  terlihat  ada perbedaan kecepatan antara anak yang satu dengan anak yang lain,  orang tua dan guru tak perlu cemas selama perbedaannya masih dalam rentang tahap perkembangan normal. Bila diketahui bahwa  anak berkebutuhan khusus,  keterampilan membaca tetap dapat diberikan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhannya.

Happy Child

Usia dini  merupakan masa keemasan (the golden age) namun sekaligus sebagai periode yang sangat kritis dalam tahap perkembangan manusia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa sampai usia 4 tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 50%. Pada usia 8 tahun mencapai 80%, dan sisanya sekitar 20% diperoleh pada saat anak berusia 8 tahun keatas Oleh karenanya, tak perlulah membombardir anak dengan metode drilling  agar anak sesegera mungkin menguasai satu keterampilan tertentu.  Karena pada sisi alaminya, anak sudah diberi kelebihan untuk dapat menyerap informasi sebanyak mungkin dari luar dirinya tanpa filtrasi. Keterpaksaan dan disiplin yang terlalu ketat justru akan menimbulkan psychological blocking  yang dapat menurunkan motivasi anak untuk lebih banyak tahu.  Oleh karenanya yang perlu dilakukan oleh orang tua dan guru adalah menjadi fasilitator bagi anak untuk mengeksplorasi seluas-luasnya rasa ingin tahu anak dan mengarahkan pemahamannya pada konsep-konsep yang lebih tepat.

Refference :

Gordon, Ann Miles. Browne, Kathryn Williams. Beginning Essentials In Early Childhood Education. Canada : Thomson Delmar Learning, 2007.

Learning to Read And Write : Developmentally Appropriate Practices For Young Children. http://www.naeyc.org/files/naeyc/file/positions/PSREAD98.PDF

Pedoman Penyelenggaraan Anak Usia Dini Terpadu. Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal Dan Informal. Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2012.

Reading Birth To Five.  http://www.learningpt.org/pdfs/literacy/readingbirthtofive.pdf

http://www.bens-abc.com/learning-timeline.htm

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s